Orang Kayapun Bisa Menipu
Saya termasuk salah satu
mahasiswa aktif jurusan Perpustakaan dan Ilmu Informasi di kampus yang ada di Bandung lebih tepatnya UPI. Hari itu saya tengah
aseeek-lah ya, melamun sambil jalan sekitar gedung-gedung kampus, secara
penulis baru saja gajihan. Gajihan dari orang tua maksudnya hehe.
Ditemani rintikan hujan, penulis memakai payung yang sudah butut (jelek), abisnya ada bolong-bolong gitu. Secara tiba-tiba terdengar suara yang memanggil.
Ditemani rintikan hujan, penulis memakai payung yang sudah butut (jelek), abisnya ada bolong-bolong gitu. Secara tiba-tiba terdengar suara yang memanggil.
"De...De...Maaf saya mau tanya kalau jalan menuju bank (....) Kemana ya?"
Penulis :
(Bengeong),,,,Ibu maaf jalannya kesini gak bisa, ibu mesti putar balik.
"Duh Kemana ya de? Maaf ade kehujanan ya? sini masuk ke Mobil
ibu!"
Teledornya saya masuk tanpa takut sedikitpun. Penulis duduk dikursi paling depan
sejajar dengan ibu tersebut. Beliau waktu itu menggunakan HP Bagus, ya,,salah
satu merek terkenal lah. terus ada HP jadul juga. Beliau basa basi dengan
menanyakan nama, alamatnya dimana, jurusan apa. Pada akhirnya beliau meminta
maaf karena alasan mengganggu waktu saya. Beliaupun berkata kurang lebih seperti ini:
Ibu Kaya : De ibu dari
UGM salah satu dokter disana, perkenalkan nama ibu Eka. Ibu kebetulan habis ada acara di
Bandung mampir ke sini, karena di sini juga ada dokter-dokter Poliklinik UPI. Tapi Bensin Ibu ini tidak akan cukup untuk pulang
kembali. Untuk saat ini ibu harus segera ke Jakarta karena takut kemalaman.
Kebetulan kartu ATM ibu tiba-tiba bermasalah masuk ke dalam mesin ATM dan tidak
dapat menarik uang. Beliau mengaku
bahwa memang kemanapun jarang membawa uang cash lebih simpel membawa ATM saja. Ibu ini
mau mengurusi ATM yang masuk ke mesin ke bank terdekat. Bisa bantu ibu tunjukkan jalannya ke sana? (sambil
memberitahu nama banknya).
Memang sebetulnya lokasi banknya terdapat di jalan gegerkalong girang yang lokasinya cukup dekat dari kampus. Namun karena memang sudah pukul 15.00 WIB waktu itu, banknya mungkin sudah tutup. Ibu tersebut kebingungan sambil mengeluh.
Ibu Kaya : De ibu bingung harus bagaimana. Ibu harus segera ke Jakarta,
gak mungkin menunggu besok bank buka karena acara di sananya adalah besok pagi.
Saya harus bagaimana ya de? (Muka memelas).
Penulis : Saya ada bu sedikit uang, mungkin bisa dipakai dulu untuk
membeli bensin.
Ibu Kaya : Di bank mu ada berapa uangnya de? Ibu boleh minta No. Rek nya nggak? Besok kalau sudah dibenerin Ibu janji ibu ganti langsung.
Penulis : Yah bu, tapi HPnya mati, No rek-nya di HP dan saya lupa. Kalau
sekarang saya nggak bawa uang gede. Ibu perlunya berapa?
Ibu Kaya : Kalau saya tergantung ade punya dan ngasihnya mau berapa! Di bank ada berapa de? saya butuh untuk makan juga dari tadi cape muter tapi kesasab disini.
Penulis : Dengan polosnya menjawa. "Adalah bu 1 juta mah".
Ibu Kaya : Uhhh besar, cukup itu de buat ibu sementara malam ini menginap nanti di jakarta dan makan, beli bensin, dan sebagainya. Ade ngambil uang biasanya dimana? ibu anter aja, mudah-mudahan bensinnnya cukup.
Penulis : Deket bu nanti saya tunjukkin jalannya.
Singkat cerita, dengan mudahnya saya memberikan uang 1 juta kepada ibu Eka tersebut. Walaupun pada saat ngambil uang ke ATM, saya terus dibisikkan "pertimbangkan-pertimbangkan-pertimbangkan". Akhirnya sama mengingat-ngingat nomer plat mobilnya, agar jika nanti ada kabar buruk saya bisa mencarinya lewat plat mobilnya.
Saya diantar sampai gang kosan. Sebelum pamitan Ibu Eka mengatakan uangnya akan diganti besok sesegera mungkin sambil memberikan nomor HPnya. Dia juga meminta nomor HP saya tapi saya lupa total.
Singkat cerita, dengan mudahnya saya memberikan uang 1 juta kepada ibu Eka tersebut. Walaupun pada saat ngambil uang ke ATM, saya terus dibisikkan "pertimbangkan-pertimbangkan-pertimbangkan". Akhirnya sama mengingat-ngingat nomer plat mobilnya, agar jika nanti ada kabar buruk saya bisa mencarinya lewat plat mobilnya.
Saya diantar sampai gang kosan. Sebelum pamitan Ibu Eka mengatakan uangnya akan diganti besok sesegera mungkin sambil memberikan nomor HPnya. Dia juga meminta nomor HP saya tapi saya lupa total.
Ibu Kaya : Terimakasih buaaaaaanayak bantuannya. Sampaikan kepada orang tuamu de terimakasih, uangnya di pinjam dulu sama ibu. Jangan menghubungi orang tua tercintamu dulu sebelum ibu nanti transfer ke rek mu ya, baru nanti ceritakan pengalaman mu membantu ibu. Salam kepada Ibu Bapak ya, mudah-mudahan bantuannya dilipat gandakan Allah swt.
Secara baik-baik kami berpisah
di depan gang kosan saya. Perasaan ragu menyelimuti, Jangan-jangan ibu itu bohong (Saya terus ragu dan bimbang sekali sekalipun lagi mengobrol sama Ibu Eka sedari tadi). Namun
disisi lain juga mengatakan bahwa ini adalah hal baik karena membantu sesama
umat untuk mengantarkan seseorang sampai tujuannya.
Ketika sampai di kosan. HP langsung dicas untuk dapat mengubungi Ibu EKA mengirim pesan berisikan no rekening saya. tik. tik. tik. ......... Belum juga ada laporan terkirim. Ketika saya telepon nomornya, ternyata sudah tidak aktif. Disanalah baru penulis sadar bahwa saya sudah tertipu dengan orang yang so... berpenampilan kaya. Menggunakan mobil berwarna merah, HP bermerek, Pake kacamata formal, kerudung mewah jeblus putih, parfum harum. Semua itu bohong.......hanya untuk menipu.
Namun saya tekadkan untuk berhusnudzan, mungkin beliau lagi dalam perjalanan atau sedang ada agenda. Namun sayang, sangat kerasa sekali 1 minggu sudah terlewati dimana hari-hari saya menunggu konfirmasi dari ibu Eka, dan.....tidak ada kepastian sama sekali.
Saya mengurung diri di kosan, beberapak kali absen kuliah dan kebingungan hidup untuk makan dan kegiatan sehari-hari uangnya dari mana. Mau minta ke orang tua takut, takut akibat dari kelalaian saya sendiri dan juga takut apa kata orang tua, "Baru juga dikirim masa sudah abis?". Tidak masuk akal, apalagi sangat takut ketahuan, kalau uangnya hilang dibawa kabur orang.
Saya merenungi hampir setiap hari,
"Kenapa bisa begitu polosnya dan sangat mudah bersimpati kepada orang, walaupun itu adalah orang yang tidak dikenal. Padahal jika sudah difikir-fikir, alasan Ibu Eka tersebut terdapat kejanggalan". Seperti,
Karena saya penasaran, saya sampe nyari daftar Pegawai di Universitas tempat Ibu Eka bekerja. Tapi tidak menemukan informasi akurat. Nama "Eka" masih terlalu umum. Pada akhirnya saya mencari di beberapa media sosial dan menemukan foto wajah yang sangat mirip, nama akunnyapun Eka. Sayangnya ketika di-chat melalui pesan aplikasi dari medsos tersebut. Beliau hanya membalas,
Ouhhhhh Betapa saya ingin menjerit sejerit-jeritnya, sayang itu hanya dapat
dilakukan ketika saya di hutan, wong.... depan belakang kanan kiri semua
bangunan kosan, bisa ngamuk tuh warga kosan.
Ketika sampai di kosan. HP langsung dicas untuk dapat mengubungi Ibu EKA mengirim pesan berisikan no rekening saya. tik. tik. tik. ......... Belum juga ada laporan terkirim. Ketika saya telepon nomornya, ternyata sudah tidak aktif. Disanalah baru penulis sadar bahwa saya sudah tertipu dengan orang yang so... berpenampilan kaya. Menggunakan mobil berwarna merah, HP bermerek, Pake kacamata formal, kerudung mewah jeblus putih, parfum harum. Semua itu bohong.......hanya untuk menipu.
Namun saya tekadkan untuk berhusnudzan, mungkin beliau lagi dalam perjalanan atau sedang ada agenda. Namun sayang, sangat kerasa sekali 1 minggu sudah terlewati dimana hari-hari saya menunggu konfirmasi dari ibu Eka, dan.....tidak ada kepastian sama sekali.
Saya mengurung diri di kosan, beberapak kali absen kuliah dan kebingungan hidup untuk makan dan kegiatan sehari-hari uangnya dari mana. Mau minta ke orang tua takut, takut akibat dari kelalaian saya sendiri dan juga takut apa kata orang tua, "Baru juga dikirim masa sudah abis?". Tidak masuk akal, apalagi sangat takut ketahuan, kalau uangnya hilang dibawa kabur orang.
Saya merenungi hampir setiap hari,
"Kenapa bisa begitu polosnya dan sangat mudah bersimpati kepada orang, walaupun itu adalah orang yang tidak dikenal. Padahal jika sudah difikir-fikir, alasan Ibu Eka tersebut terdapat kejanggalan". Seperti,
"Jangan menguhubungi orang tua dulu, nanti aja sesudah uangnya
dikembalikan".
"Uangnya nurut dikasih 1 juta padahal hanya untuk
bensin, makan dan bermalam HANYA semalam".
Karena saya penasaran, saya sampe nyari daftar Pegawai di Universitas tempat Ibu Eka bekerja. Tapi tidak menemukan informasi akurat. Nama "Eka" masih terlalu umum. Pada akhirnya saya mencari di beberapa media sosial dan menemukan foto wajah yang sangat mirip, nama akunnyapun Eka. Sayangnya ketika di-chat melalui pesan aplikasi dari medsos tersebut. Beliau hanya membalas,
"Maaf anda salah orang yang
dimaksud, terimakasih".
Dari kejadian tersebut saya
mencoba untuk ikhlas dan mengkomunikasikannya kepada keluarga. Saya juga
berdo'a agar orang yang menipu tersebut tidak menipu lagi. Dengan adanya
pengalaman tulisan sederhana ini diharapkan masyarakat utamanya para anak muda,
jangan terlalu berlebihan percaya kepada orang yang tidak kita kenal.
Cerdaslah dalam menyaring
informasi yang disampaikan, apakah masuk akal atau tidak. Mintalah jaminan dari
orang yang kita tolong kalau memang dia terlihat mencolok (Kaya). Jaminan
berupa KTP, Foto bersama, rekaman percakapan, barang berharga yang seharga uang
pinjaman atau yang lainnya yang bisa dijadikan barang bukti jika kita tertipu.
Lebih baik mencoba mencegah kemungkinan terburuk dari pada harus sama seperti
yang saya alami. Kecuali jika memang kamu berniat untuk membantunya tanpa pamrih, biar Allah swt yang membalas kebaikan kamu, karena rejekinya yang kita kasih kepada orang lain sejatinya milik Allah swt, kita sendiri juga dikasih oleh-Nya.
Saya yakin 100% ada hal baik ke depannya untuk saya, karena musibah tidak luput dari pembersihan dosa-dosa kita sendiri. Belajar ikhlas itu perlu latihan, begitupula kejadian ini adalah salah satu latihannya, dan bagi si penipu juga ada akibatnya karena sudah merugikan orang, entah itu dibalas langsung di dunia atau mungkin nanti diakhirat, Wallahualam. Semoga Allah swt mengampuninya, aamiin.
Saya yakin 100% ada hal baik ke depannya untuk saya, karena musibah tidak luput dari pembersihan dosa-dosa kita sendiri. Belajar ikhlas itu perlu latihan, begitupula kejadian ini adalah salah satu latihannya, dan bagi si penipu juga ada akibatnya karena sudah merugikan orang, entah itu dibalas langsung di dunia atau mungkin nanti diakhirat, Wallahualam. Semoga Allah swt mengampuninya, aamiin.
Komentar
Posting Komentar