Museum
Sonobudoyo terletak dipersimpangan jalan besar yang cukup mudah ditemukan.
Terdapat penanda keterangan menuju museum dari persimpangan sebagai petunjuk
arah jalan. Selain itu letak museum ini berdekatan dengan keraton Yogyakarta
yang menjadi salah satu destinasi terkenal kota Yogyakarta sehingga akan mudah
dikenali oleh masyarakat luar. Museum ini juga tidak jauh dari museum benteng
Vredeburg, yaitu peninggalan zaman belanda yang digunakan sebagai tempat
peristirahatan dan pertahanan residen Belanda. Sehingga menjadi daya tarik
tersendiri untuk para pengunjung yang mencari destinasi wisata pendidikan.
Kebetulan penulis mengunjungi kedua museum sekaligus untuk melihat keunikan dan
pelayanan yang diberikan dari masing-masing museum.
Kita mulai dari segi bangunan musem
Sonobudoyo. museum ini memiliki ciri seperti keraton-keraton terdahulu
Yogyakarta. Rumah adat joglo yang terlihat elegan, dibuat perpaduan antara
kebudayaan jawa dan bali. Diluar ruangan dapat terlihat beberapa patung yang
menonjolkan kebudayaan bali, beberapa aksesoris seperti lampu, atap bangunan
menggambarkan kebudayaan jawa. Sehingga sekilas dengan melihat gedung bangunan
luarpun sudah tertebak koleksi yang sekiranya akan disajikan, yaitu berhubungan
dengan benda-benda kebudayaan. Sebelum masuk ruangan, terdapat tata tertib yang
harus dipatuhi pengunjung tepat setelah melewati gerbang utama museum.
Ketika
rombongan masuk, kami benar-benar disambut dengan iringan gamelan. Hal ini
sangat menyenangkan, seperti menjadi seorang tamu kehormatan dalam sehari. Dengan
adanya sajian musik tersebut dapat diprediksi pihak museum memperhatikan
pelestarian kebudayaan dan memperhatikan kenyamanan pengunjung. Mengapa
demikian?
Karena, untuk
memainkan gamelan tentunya tidak mudah. Penulispun merasakan adanya kekentalan
budaya yang khas ketika mendsecurity
selama 24 jam perhari. Adapun mengenai keselamatan pengujung, dalam setiap sesi
ruangan terdapat gas penyemprot untuk kemungkinan terjadinya kebakaran.
Mengenai pintu darurat, tersedia pintu yang khusus untuk jalan alterntif, namun
tertutup dan sayangnya tidak terlihat adanya keterangan bahwa pintu tersebut
sebagai alternatif jalan darurat. Setiap ruangan dilengkapi dengan kamera dan
ketahanan gedung dilengkapi dengan kaca anti gempa yang tidak mudah roboh.
engar sajian alunan gamelan yang begitu nyaring
didengarkan. Sayangnya dari segi ruangan terdapat beberapa sudut tempat yang
kurang terawat sehingga terlihat kusam dan kotor, kaca-kacanya juga sudah mulai
menguning dan terlihat kusam. Adapun dinding ruangan dominan menggunakan
aksesoris pahatan kayu sehingga menambah artistik unik ruangan. Untuk keamanan
museum sendiri dijaga oleh
 |
(Salah satu area luar
museum Sonobudoyo: Dokumentasi pribadi)
|
Area publik museum Sonobudoyo terkesan
seperti rumah sendiri. Kebetulan yang penulis kunjungi adalah area publik
outdoor dimana suasana dibuat seperti
halaman rumah. Terdapat tanaman bunga, kolam, patung, tempat duduk. Selain itu,
dalam setiap ruang terdapat petunjuk yang dapat mengarahkan pengunjung, seperti
arah jalan untuk keluar masuk ruangan, lokasi menuju toilet dan sebagainya. Dengan petunjuk
terebut membantu pengunjung yang mandiri agar tidak tersersat.
Konsep
penyajian koleksi sendiri menyesuaikan dengan tata letak ruangan. Ada yang
menggunakan kaca pelindung, namun banyak juga yang berbentuk patung dan koleksi
lain tidak dilindungi kaca. Menurut pemandu museum, hal ini disesuaikan dengan
kemudahan perawatan koleksi dan juga memperhatikan bentuk dari koleksi sendiri,
seperti misalnya terdapat patung yang besar terbuat dari batu, tertalu sulit
untuk dipindah-pindahkan jika menggunakan pelindung kaca.
Untuk keterangan koleksi sendiri diberi label
yang singkat namun menceritakan makna dari setiap koleksi. Tulisan tidak dapat
terbaca dengan jelas, karena kebetulan penulis mengalami minus mata sehingga
harus menggunakan kacamata untuk dapat terbaca. Koleksi disusun berdasarkan
kesamaan tipe contohnya koleksi ruang yang berisi topeng-topeng, ruang pakaian
adat, dan sebagainya. Beberapa ruang pamer terdapat fasilitas komputer yang
dapat digunakan pengunjung sebagai alternatif dalam melihat dan mempelajari
koleksi. Namun sayangnya, ketika berkunjung komputernya tengah rusak sehingga
tidak dapat digunakan. Koleksi museum Sonobudoyo memang unik, dari sekian
koleksi yang dipamerkan terdapat koleksi yang menarik dan penulis ingin terus
memandangi koleksi tersebut. seperti koleksi topeng yang beraneka ragam.
Bentuknya aneh-aneh, ekspresi dari koleksi topeng ada yang menakutkan, lucu
hingga sedih. Adapula ekspresi tertawa tapi terlihat seperti bersedih. Bahkan
warna dari koleksi topeng mempengaruhi ekspresi. Seperti warna merah yang
terlihat seperti tengah marah. Seharusnya pengunjung dapat memetik makna dan
pelajaran dari koleksi tersebut.
Untuk desain tata
pencahayaan secara ganda, karena selain dari lampu, terdapat pula sorotan
cahaya dari beberapa celah jendela dan kaca dari setiap ruangan. Adapun cahaya
khusus dari lampu dalam kotak kaca memperjelas koleksi dan keterangan tulisan
dari koleksi.
 |
(Depan
gerbang museum Vredeburg
dijadikan ajang untuk selfie: Dokumentasi pribadi)
|
Lain halnya dengan
kunjungan ke museum benteng Vredeburg yang kental dengan ciri bangunan Belanda.
Awal masuk saja sudah disambut dengan gerbang ala Belanda, dengan jelas
terdapat tulisan “VREDEBURG”. Untuk sistem kemanan yang diterapkan Museum
benteng Vredeburg tidak jauh berbeda dengan museum Sonobudoyo hanya saja
penulis masih belum mengetahui apakah bangunan dan kaca dari museum teleh
menerapkan keamanan anti gempa atau tidak.
Museum Benteng
Vredeburg memiliki area yang terkesan indah. Hal ini dirasakan penulis ketika
memasuki gerbang museum. Karena disana terdapat air mancur yang indah dikedua
sisi jalan. Ketika awal masukpun langsung disuguhi area rumput hijau. Adapun
dimuseum ini terdapat kafe, museum shop
dan perpustakan, tapi sayangnya waktu kunjungan kami tidak sempat untuk merasakan
sensasi menu kafe dan koleksi p
erpustakaan yang dilanyankan. Dalam museum ini terdapat
petunjuk arah yang jelas, pintu darurat yang jelas dapat digunakan, juga
kebersihan yang sangat apik. Karena penulis merasa sangat nyaman dan adem
berada disana.
 |
(Area Air mancur out door
benteng museum Vredeburg: Dokumentasi pribadi)
|
Adapun koleksi
museum benteng Vredeburg yang sepenuhnya menggunakan pelindung kaca untuk
setiap koleksi, karena memang ciri khas dari museum ini adalah koleksi dalam
bentuk diorama (sejenis miniatur 3 dimensi dari bentuk aslinya). Penulis merasa
senang karena baru pertama kalinya melihat miniatur-miniatur dari setiap momen
bersejarah di Indonesia khususnya di Yogyakarta lengkap dengan fasilitas
pendukung lainnya seperti bangunan, kursi, ruang belajar, gua dan
lain-lain.Semuanya terlihat imut-imut dan seperti melihat kondisi nyata pada
waktu masa lampau. Adapun mengenai keterangan dari setiap koleksi itu
berbeda-beda, ada yang menggunakan kertas putih dengan tulisan hitam yang
sangat jelas, adapula yang bertuliskan latar hitam dengan tulisan yang putih.
Terdapat pula komputer dengan layar yang besar sebagai tambahan informasi
koleksi. Tata pencahayaan dari ruangan museum tidak terlalu terang, koleksi
dapat terlihat dengan jelas. Perawatan koleksi sangat diperhatikan, terbukti
dengan adanya pengatur suhu pada setiap ruang koleksi. Pada setiap ruangan juga
terdapat kursi ditengah-tengah ruangan untuk duduk santai sambil melihat-lihat
koleksi yang diletakan disetiap dinding dalam.
Saat pengenalan koleksi museum
terasa ngantuk, dan terlalu terburu-buru. Sehingga lebih nyaman jika
jalan-jalan ke museum secara santai dan tidak terpatok oleh waktu. Karena waktu
kunjungan terdapat jadwal kunjungan untuk melanjutkan kegiatan di tempat lain,
jadi serasa kurang bebas.
 |
(Penyajian koleksi museum
benteng Vredeburg: Dokumentasi pribadi)
|
Kedua museum ini melestarikan kebudayaan yang
memiliki ciri khasnya masing-masing. Museum Sonobudoyo condong kepada
benda-benda bersejarah masyarakat adat budaya Indonesia khususnya bali dan
jawa. Sedangkan museum benteng Vredeburg condong pada pelestarian
kejadian/peristiwa penting pemebentukan negara Indonesia termasuk bidang
pendidikan pada zaman penjajahan.
Masyarakat luas dapat mengunjungi kedua museum
ini berdasarkan kebutuhan utama yang akan digali. Apakah itu mengenai
kebudayaan atau sejarah peristiwa penting di Indonesia yang harus diketahui
masyarakat utamanya anak muda sehingga semangat juang dari tokoh-tokoh yang
sudah berperan untuk kemajuan bangsa dan negara Indonesia. Namun menurut
penulis tidak lengkap lengkap rasanya jika mengunjungi kota Yogyakarta tanpa
mengunjungi kedua museum ini yang lokasinya berdekatan pula.
Beberapa dokumentasi penulis saat kunjungan ke museum benteng Vredeburg dan Sonobudoyo:
Komentar
Posting Komentar