Orang Kayapun Bisa Menipu

Saya termasuk salah satu mahasiswa aktif jurusan Perpustakaan dan Ilmu Informasi di kampus yang ada di Bandung lebih tepatnya UPI. Hari itu saya tengah aseeek-lah ya, melamun sambil jalan sekitar gedung-gedung kampus, secara penulis baru saja gajihan. Gajihan dari orang tua maksudnya hehe.  Ditemani rintikan hujan, penulis memakai payung yang sudah butut (jelek), abisnya ada bolong-bolong gitu. Secara tiba-tiba terdengar suara yang memanggil. "De...De...Maaf saya mau tanya kalau jalan menuju bank (....) Kemana ya?" Penulis      : (Bengeong),,,,Ibu maaf jalannya kesini gak bisa, ibu mesti putar balik. "Duh Kemana ya de? Maaf ade kehujanan ya? sini masuk ke Mobil ibu!" Teledornya saya masuk tanpa takut sedikitpun. Penulis duduk dikursi paling depan sejajar dengan ibu tersebut. Beliau waktu itu menggunakan HP Bagus, ya,,salah satu merek terkenal lah. terus ada HP jadul juga. Beliau basa basi dengan menanyakan nama, alamatnya dimana, jurusan apa. Pada a...

Luar Biasa Museum Sonobudoyo dan Museum Benteng Vredeburg

            Museum Sonobudoyo terletak dipersimpangan jalan besar yang cukup mudah ditemukan. Terdapat penanda keterangan menuju museum dari persimpangan sebagai petunjuk arah jalan. Selain itu letak museum ini berdekatan dengan keraton Yogyakarta yang menjadi salah satu destinasi terkenal kota Yogyakarta sehingga akan mudah dikenali oleh masyarakat luar. Museum ini juga tidak jauh dari museum benteng Vredeburg, yaitu peninggalan zaman belanda yang digunakan sebagai tempat peristirahatan dan pertahanan residen Belanda. Sehingga menjadi daya tarik tersendiri untuk para pengunjung yang mencari destinasi wisata pendidikan. Kebetulan penulis mengunjungi kedua museum sekaligus untuk melihat keunikan dan pelayanan yang diberikan dari masing-masing museum.
Kita mulai dari segi bangunan musem Sonobudoyo. museum ini memiliki ciri seperti keraton-keraton terdahulu Yogyakarta. Rumah adat joglo yang terlihat elegan, dibuat perpaduan antara kebudayaan jawa dan bali. Diluar ruangan dapat terlihat beberapa patung yang menonjolkan kebudayaan bali, beberapa aksesoris seperti lampu, atap bangunan menggambarkan kebudayaan jawa. Sehingga sekilas dengan melihat gedung bangunan luarpun sudah tertebak koleksi yang sekiranya akan disajikan, yaitu berhubungan dengan benda-benda kebudayaan. Sebelum masuk ruangan, terdapat tata tertib yang harus dipatuhi pengunjung tepat setelah melewati gerbang utama museum.
Ketika rombongan masuk, kami benar-benar disambut dengan iringan gamelan. Hal ini sangat menyenangkan, seperti menjadi seorang tamu kehormatan dalam sehari. Dengan adanya sajian musik tersebut dapat diprediksi pihak museum memperhatikan pelestarian kebudayaan dan memperhatikan kenyamanan pengunjung. Mengapa demikian?


Karena, untuk memainkan gamelan tentunya tidak mudah. Penulispun merasakan adanya kekentalan budaya yang khas ketika mendsecurity selama 24 jam perhari. Adapun mengenai keselamatan pengujung, dalam setiap sesi ruangan terdapat gas penyemprot untuk kemungkinan terjadinya kebakaran. Mengenai pintu darurat, tersedia pintu yang khusus untuk jalan alterntif, namun tertutup dan sayangnya tidak terlihat adanya keterangan bahwa pintu tersebut sebagai alternatif jalan darurat. Setiap ruangan dilengkapi dengan kamera dan ketahanan gedung dilengkapi dengan kaca anti gempa yang tidak mudah roboh.
engar sajian alunan gamelan yang begitu nyaring didengarkan. Sayangnya dari segi ruangan terdapat beberapa sudut tempat yang kurang terawat sehingga terlihat kusam dan kotor, kaca-kacanya juga sudah mulai menguning dan terlihat kusam. Adapun dinding ruangan dominan menggunakan aksesoris pahatan kayu sehingga menambah artistik unik ruangan. Untuk keamanan museum sendiri dijaga oleh


(Salah satu area luar museum Sonobudoyo: Dokumentasi pribadi)
Area publik museum Sonobudoyo terkesan seperti rumah sendiri. Kebetulan yang penulis kunjungi adalah area publik outdoor dimana suasana dibuat seperti halaman rumah. Terdapat tanaman bunga, kolam, patung, tempat duduk. Selain itu, dalam setiap ruang terdapat petunjuk yang dapat mengarahkan pengunjung, seperti arah jalan untuk keluar masuk ruangan, lokasi menuju toilet dan sebagainya. Dengan petunjuk terebut membantu pengunjung yang mandiri agar tidak tersersat.
Konsep penyajian koleksi sendiri menyesuaikan dengan tata letak ruangan. Ada yang menggunakan kaca pelindung, namun banyak juga yang berbentuk patung dan koleksi lain tidak dilindungi kaca. Menurut pemandu museum, hal ini disesuaikan dengan kemudahan perawatan koleksi dan juga memperhatikan bentuk dari koleksi sendiri, seperti misalnya terdapat patung yang besar terbuat dari batu, tertalu sulit untuk dipindah-pindahkan jika menggunakan pelindung kaca.

Untuk keterangan koleksi sendiri diberi label yang singkat namun menceritakan makna dari setiap koleksi. Tulisan tidak dapat terbaca dengan jelas, karena kebetulan penulis mengalami minus mata sehingga harus menggunakan kacamata untuk dapat terbaca. Koleksi disusun berdasarkan kesamaan tipe contohnya koleksi ruang yang berisi topeng-topeng, ruang pakaian adat, dan sebagainya. Beberapa ruang pamer terdapat fasilitas komputer yang dapat digunakan pengunjung sebagai alternatif dalam melihat dan mempelajari koleksi. Namun sayangnya, ketika berkunjung komputernya tengah rusak sehingga tidak dapat digunakan. Koleksi museum Sonobudoyo memang unik, dari sekian koleksi yang dipamerkan terdapat koleksi yang menarik dan penulis ingin terus memandangi koleksi tersebut. seperti koleksi topeng yang beraneka ragam. Bentuknya aneh-aneh, ekspresi dari koleksi topeng ada yang menakutkan, lucu hingga sedih. Adapula ekspresi tertawa tapi terlihat seperti bersedih. Bahkan warna dari koleksi topeng mempengaruhi ekspresi. Seperti warna merah yang terlihat seperti tengah marah. Seharusnya pengunjung dapat memetik makna dan pelajaran dari koleksi tersebut.
Untuk desain tata pencahayaan secara ganda, karena selain dari lampu, terdapat pula sorotan cahaya dari beberapa celah jendela dan kaca dari setiap ruangan. Adapun cahaya khusus dari lampu dalam kotak kaca memperjelas koleksi dan keterangan tulisan dari koleksi.



(Depan gerbang museum Vredeburg
 dijadikan ajang untuk selfie: Dokumentasi pribadi)
Lain halnya dengan kunjungan ke museum benteng Vredeburg yang kental dengan ciri bangunan Belanda. Awal masuk saja sudah disambut dengan gerbang ala Belanda, dengan jelas terdapat tulisan “VREDEBURG”. Untuk sistem kemanan yang diterapkan Museum benteng Vredeburg tidak jauh berbeda dengan museum Sonobudoyo hanya saja penulis masih belum mengetahui apakah bangunan dan kaca dari museum teleh menerapkan keamanan anti gempa atau tidak.
Museum Benteng Vredeburg memiliki area yang terkesan indah. Hal ini dirasakan penulis ketika memasuki gerbang museum. Karena disana terdapat air mancur yang indah dikedua sisi jalan. Ketika awal masukpun langsung disuguhi area rumput hijau. Adapun dimuseum ini terdapat kafe, museum shop dan perpustakan, tapi sayangnya waktu kunjungan kami tidak sempat untuk merasakan sensasi menu kafe dan koleksi p
erpustakaan yang dilanyankan. Dalam museum ini terdapat petunjuk arah yang jelas, pintu darurat yang jelas dapat digunakan, juga kebersihan yang sangat apik. Karena penulis merasa sangat nyaman dan adem berada disana.

(Area Air mancur out door benteng museum Vredeburg: Dokumentasi pribadi)

Adapun koleksi museum benteng Vredeburg yang sepenuhnya menggunakan pelindung kaca untuk setiap koleksi, karena memang ciri khas dari museum ini adalah koleksi dalam bentuk diorama (sejenis miniatur 3 dimensi dari bentuk aslinya). Penulis merasa senang karena baru pertama kalinya melihat miniatur-miniatur dari setiap momen bersejarah di Indonesia khususnya di Yogyakarta lengkap dengan fasilitas pendukung lainnya seperti bangunan, kursi, ruang belajar, gua dan lain-lain.Semuanya terlihat imut-imut dan seperti melihat kondisi nyata pada waktu masa lampau. Adapun mengenai keterangan dari setiap koleksi itu berbeda-beda, ada yang menggunakan kertas putih dengan tulisan hitam yang sangat jelas, adapula yang bertuliskan latar hitam dengan tulisan yang putih. Terdapat pula komputer dengan layar yang besar sebagai tambahan informasi koleksi. Tata pencahayaan dari ruangan museum tidak terlalu terang, koleksi dapat terlihat dengan jelas. Perawatan koleksi sangat diperhatikan, terbukti dengan adanya pengatur suhu pada setiap ruang koleksi. Pada setiap ruangan juga terdapat kursi ditengah-tengah ruangan untuk duduk santai sambil melihat-lihat koleksi yang diletakan disetiap dinding dalam.

Saat pengenalan koleksi museum terasa ngantuk, dan terlalu terburu-buru. Sehingga lebih nyaman jika jalan-jalan ke museum secara santai dan tidak terpatok oleh waktu. Karena waktu kunjungan terdapat jadwal kunjungan untuk melanjutkan kegiatan di tempat lain, jadi serasa kurang bebas.


(Penyajian koleksi museum benteng Vredeburg: Dokumentasi pribadi)
Kedua museum ini melestarikan kebudayaan yang memiliki ciri khasnya masing-masing. Museum Sonobudoyo condong kepada benda-benda bersejarah masyarakat adat budaya Indonesia khususnya bali dan jawa. Sedangkan museum benteng Vredeburg condong pada pelestarian kejadian/peristiwa penting pemebentukan negara Indonesia termasuk bidang pendidikan pada zaman penjajahan.
Masyarakat luas dapat mengunjungi kedua museum ini berdasarkan kebutuhan utama yang akan digali. Apakah itu mengenai kebudayaan atau sejarah peristiwa penting di Indonesia yang harus diketahui masyarakat utamanya anak muda sehingga semangat juang dari tokoh-tokoh yang sudah berperan untuk kemajuan bangsa dan negara Indonesia. Namun menurut penulis tidak lengkap lengkap rasanya jika mengunjungi kota Yogyakarta tanpa mengunjungi kedua museum ini yang lokasinya berdekatan pula.

Beberapa dokumentasi penulis saat kunjungan ke museum benteng Vredeburg dan Sonobudoyo:










Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang Kayapun Bisa Menipu